Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tag: Sejarah Masjid Agung Gresik

Sejarah Masjid Agung Gresik

Sejarah Masjid Agung Gresik –  adalah tempat pertama yang saya kunjungi saat sampai di Kota Gresik, setelah sebelumnya dijemput di stasiun kereta Surabaya Gubeng oleh supir mobil yang saya sewa. Apey Idris-lah yang membantu saya memesan mobil untuk saya gunakan hari itu. Begitu keluar dari Stasiun Gubeng.

Kami sarapan pagi di Soto Gubeng di Jl. Kusuma Bangsa, sebelum menuju Tol Surabaya – Gresik. Selang beberapa lama di Tol Surabaya – Gresik, meski GPS menyarankan untuk tetap di jalan tol, pengemudi berangkat di Romokalisari yang meski jaraknya hampir sama tapi lalu lintas lebih padat. Masjid Agung Gresik dengan bangunan dasar berbentuk persegi panjang dan atapnya hampir berbentuk limas

Bagian bawah menara Masjid Agung Gresik juga berbentuk kotak menyempit ke atas kemudian mekar sedikit dan menyempit lagi. Dinding luar di setiap sisi memiliki tiga lubang masuk yang lebar dan tinggi berbentuk kuncup di bagian atas, dihiasi dengan ornamen kaca konsentris dengan warna kuning, hijau dan biru.

Mihrab Masjid Agung Gresik dengan satu kaligrafi di tengahnya bertuliskan Allahu Akbar. Mungkin ini lebih baik, daripada memajang kaligrafi “Allah” di dinding di sebelah kiri, dan kaligrafi “Muhammad” di sebelah kanan, karena hanya kepada Allah kita menyembah.

Tatanan lampu dalam kotak kayu berjumlah enam belas digantung di langit-langit bagian tengah Masjid Agung Gresik. Kotak lampu Masjid Agung Gresik terlihat dari bawah. Deretan pintu Masjid Agung Gresik yang indah dengan tulisan “Allahu Akbar” pada kaca yang ujungnya berbentuk bintang bersudut delapan. Di bagian atas pilar Masjid Agung Gresik terdapat ornamen kayu dengan lubang berbentuk siku dan kaligrafi di tengahnya.

Adalah Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim Tionghoa, yang dikatakan memperkenalkan bedug ketika armadanya berhenti di Jawa. Pada masa Orde Baru, ketika Muslim modernis berkuasa, bedug pernah dicopot dari masjid dan masjid, diganti pengeras suara. Namun warga NU menolak, sehingga banyak masjid yang masih mempertahankan bedug tersebut hingga saat ini. Di halaman depan Masjid Agung Gresik, dekat jalan raya, terdapat mata air atau mata air di bawah naungan pohon beringin besar.

Itulah Sejarah Masjid Agung Gresik yang cocok untuk destinasi wisata religi, selain itu kita juga perlu memerhatikan umat-umat muslim yang tinggal didesa dan pelosok negeri yang sulit untuk mengakses masjid bahkan tidak tersedianya masjid-masjid dilingkungan mereka. Salah satu cara menolong mereka ialah dengan bergotong royong menyumbangkan rezeki kita untuk membangun masjid pedesaan dan membantu ibadah warga muslim disana.